Jarak Tanam Jajar Legowo Pada Padi

Jarak Tanam Jajar Legowo Pada Padi

Dalam upaya peningkatan produksi padi memerlukan teknik budi daya yang lebih baik. Cara budidaya padi terbaik mempertimbangkan secara ilmiah aspek lingkungan (tanah, air, iklim, Organisme Pengganggu Tanaman/OPT), karakter tanaman (varietas sesuai), termasuk bentuk tajuk tanaman, teknologi dan pengelolaannya, selain aspek sosial dan ekonomi juga turut menentukan kelayakan penerapan teknologi budi daya (Sutoro & Makarim, 1979).
Saat ini salah satu terobosan dalam peningkatan produktivitas padi adalah sitem tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo (tajarwo) merupakan sistem tanam yang memperhatikan larikan tanaman dan merupakan tanaman berselang antara dua atau lebih baris tanaman padi dan satu baris kosong. Tujuannya agar populasi tanaman per satuan luas dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan (Suriapermana dan Syamsiah dalam Yunizar et.al 2012). Pola tanam legowo menurut bahasa jawa berasal dari kata lego yang berarti luas dan owo atau panjang dan cara ini pertama diperkenalkan oleh Bapak Legowo, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjarnegara-Jawa Tengah.
Sistem tanam jajar legowo memiliki jumlah rumpun per satuan luas lebih banyak dibandingkan dengan cara tanam tegel yang setara, misalnya tanam tegel 25 cm x 25 cm memiliki populasi 160.000 rumpun/ha, sedangkan legowo 2 : 1 yang setara dengan 25-50 cm x 12,5 cm memiliki populasi 213.333 rumpun. Orientasi pertanaman jajar legowo meskipun pada populasi yang sama berpeluang menghasilkan gabah yang lebih tinggi karena lebih banyak fotosintesis yang terjadi, karena lebih efektifnya tanaman dalam menangkap radiasi surya dan mudahnya difusi gas CO2 untuk fotosintesis. (Lin et.al 2009) menyatakan jarak tanam yang lebar dapat memperbaiki total penangkapan cahaya oleh tanaman dapat meningkatkan hasil biji. Lebih lebarnya jarak tanam antara barisan dapat memperbaiki total radiasi cahaya yang ditangkap oleh tanaman dan dapat meningkatkan hasil. Oleh karena itu penerapan sistem tanan jajar legowo yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat hampir dipastikan dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi dan keuntungan bagi petani, sedangkan perluasannya secara nasional dapat meningkatkan produksi padi.
Sistem tanam jajar legowo pada dasarnya adalah meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur jarak tanam. Sistem tanam ini juga memanipulasi tata letak tanaman, sehingga rumpun tanaman sebagian besar menjadi tanaman pinggir. Tanaman padi yang berada di pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak, sehingga akan menghasilkan gabah lebih tinggi dengan kualitas lebih baik.
Pada cara tanam jajar legowo 2 : 1, setiap dua baris tanaman diselingi satu barisan kosong dengan lebar dua kali jarak barisan, namun jarak tanam dalam barisan dipersempit menjadi setengah jarak tanam aslinya.
Pengaturan sistem tanam ternyata menentukan kualitas dan kuantitas rumpun tanaman padi, yang kemudian bersama populasi/jumlah rumpun per satuan luas berpengaruh terhadap hasil tanaman. Namun beberpa faktor yang mempengaruhi diterapkannya suatu jarak tanam dengan cara tanam jajar legowo oleh petani di beberapa wilayah adalah : (1) ketersediaan tenaga kerja, (2) ketersediaan benih, (3) kemudahan operasional di lapang, (4) penyuluhan tentang penerapan jarak tanam, (5) kondisi wilayah (keadaan drainase, endemik keong mas, dll).
Jarak tanam dari berbagai ukuran mulai dari tegel 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm, 27,5 cm x 27,5 cm, 30 cm x 30 cm, hingga pola jajar legowo dengan berbagai variasinya (legowo 2 : 1, 4 : 1, 6 : 1 dan 8 : 1) masing-masing berasal dari jaraktanam tegel (Makarim dan Ikhwani 2012). Jarak tanam legowo 30 cm x 20 cm x 10 cm dapat menghasilkan padi gogo sebanyak 3,29 ton/ha. Sedangkan hasil terendah diperoleh dengan menggunakan jarak tanam tegel (25 cm x 25 cm) mengahsilkan padi sebesar 2,22 ton/ha (Putra 2011). Penggunaan jarak tanam 30 cm x 30 cm nyata dapat meningkatkan hasil dan komponen hasil padi dibandingkan jarak tanam 20 cm x 20 cm dan 25 cm x 25 cm (Masdar et.al 2005). Pengaturan jarak tanam pada dasarnya adalah memberikan kemungkinan tanaman padi untuk tumbuh dengan baik tanpa mengalami banyak persaingan dalam hal mengambil air,unsur hara dan cahaya matahari. Dalam jarak tanam yang tepat, tanaman akan memperoleh nruang tumbuh yang seimbang (Warjido at.al. 1990)
Ruslia Atmaja, ppmkp ciawi/bppsdmp


Sumber : Iptek tanaman pangan Vol 8 No. 2 Puslitbang Tanaman Tanaman Pangan 2013

Share this post

Pinterest
LinkedIn
WhatsApp

Berita Terkait :